Rabu, 30 November 2011

PENGARUH KELUARGA TERHADAP KENAKALAN ANAK

Pengaruh keluarga dalam kenakalan remaja adalah :
1. Keluarga yang Broken Home
Masa remaja adalah masa yang diamana seorang sedang mengalami saat kritis
sebab ia mau menginjak ke masa dewasa. Remaja berada dalam masa peralihan.
Dalam masa peralihan itu pula remaja sedang mencari identitasnya. Dalam
proses perkembangan yang serba sulit dan masa-masa membingungkan dirinya,
© 2003 Digitized by USU digital library 4
remaja membutuhkan pengertian dan bantuan dari orang yang dicintai dan dekat
dengannya terutama orang tua atau keluarganya. Seperti yang telah disebutkan
diatas bahwa fungsi keluarga adalah memberi pengayoman sehingga menjamin
rasa aman maka dalam masa kritisnya remaja sungguh-sungguh membutuhkan
realisasi fungsi tersebut. Sebab dalam masa yang kritis seseorang kehilangan
pegangan yang memadai dan pedoman hidupnya. Masa kritis diwarnai oleh
konflik-konflik internal, pemikiran kritis, perasaan mudah tersinggung, cita-cita
dan kemauan yang tinggi tetapi sukar ia kerjakan sehingga ia frustasi dan
sebaginya. masalah keluarga yang broken home bukan menjadi masalah baru
tetapi merupakan masalah yang utama dari akar-akar kehidupan seorang anak.
Keluarga merupakan dunia keakraban dan diikat oleh tali batin, sehingga
menjadi bagian yang vital dari kehidupannya.
Penyebab timbulnya keluarga yang broken home antara lain:
a) Orang tua yang bercerai
Perceraian menunjukkan suatu kenyataan dari kehidupan suami istri yang
tidak lagi dijiwai oleh rasa kasih sayang dasar-dasar perkawinan yang telah
terbina bersama telah goyah dan tidak mampu menompang keutuhan
kehidupan keluarga yang harmonis. Dengan demikian hubungan suami istri
antara suami istri tersebut makin lama makin renggang, masing-masing atau
salah satu membuat jarak sedemikian rupa sehingga komunikasi terputus
sama sekali. Hubungan itu menunjukan situas keterasingan dan keterpisahan
yang makin melebar dan menjauh ke dalam dunianya sendiri. jadi ada
pergeseran arti dan fungsi sehingga masing-masing merasa serba asing
tanpa ada rasa kebertautan yang intim lagi.
b) Kebudayaan bisu dalam keluarga
Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog antar
anggota keluarga. Problem yang muncul dalam kebudayaan bisu tersebut
justru terjadi dalam komunitas yang saling mengenal dan diikat oleh tali
batin. Problem tersebut tidak akan bertambah berat jika kebudayaan bisu
terjadi diantara orang yang tidak saling mengenal dan dalam situasi yang
perjumpaan yang sifatnya sementara saja. Keluarga yang tanpa dialog dan
komunikasi akan menumpukkan rasa frustasi dan rasa jengkel dalam jiwa
anak-anak. Bila orang tua tidak memberikan kesempatan dialog dan
komunikasi dalam arti yang sungguh yaitu bukan basa basi atau sekedar
bicara pada hal-hal yang perlu atau penting saja; anak-anak tidak mungkin
mau mempercayakan masalah-masalahnya dan membuka diri. Mereka lebih
baik berdiam diri saja. Situasi kebudayaan bisu ini akan mampu mematikan
kehidupan itu sendiri dan pada sisi yang sama dialog mempunyai peranan
yang sangat penting.
Kenakalan remaja dapat berakar pada kurangnya dialog dalam masa
kanak-kanak dan masa berikutnya, karena orangtua terlalu menyibukkan diri
sedangkan kebutuhan yang lebih mendasar yaitu cinta kasih diabaikan.
Akibatnya anak menjadi terlantar dalam kesendirian dan kebisuannya.
Ternyata perhatian orangtua dengan memberikan kesenangan materiil belum
mampu menyentuh kemanusiaan anak. Dialog tidak dapat digantikan
kedudukannya dengan benda mahal dan bagus. Menggantikannya berarti
melemparkan anak ke dalam sekumpulan benda mati.
c) Perang dingin dalam keluarga
Dapat dikatakan perang dingin adalah lebih berat dari pada kebudayaan bisu.
Sebab dalam perang dingin selain kurang terciptanya dialog juga disisipi oleh
rasa perselisihan dan kebencian dari masing-masing pihak. Awal perang
dingin dapat disebabkan karena suami mau memenangkan pendapat dan
© 2003 Digitized by USU digital library 5
pendiriannya sendiri, sedangkan istri hanya mempertahankan keinginan dan
kehendaknya sendiri.
Suasana perang dingin dapat menimbulkan :
1. Rasa takut dan cemas pada anak-anak.
2. Anak-anak menjadi tidak betah dirumah sebab merasa tertekan dan
bingung serta tegang.
3. Anak-anak menjadi tertutup dan tidak dapat mendiskusikan problem yang
dialami.
4. Semangat belajar dan konsentrasi mereka menjadi lemah.
5. Anak-anak berusaha mencari kompensasi semu.
2. Pendidikan yang salah
a. Sikap memanjakan anak
Keluarga mempunyai peranan di dalam pertumbuhan dan perkembangan
pribadi seorang anak. Sebab keluarga merupakan lingkungan pertama dari
tempat kehadirannya dan mempunyai fungsi untuk menerima, merawat dan
mendidik seorang anak. Jelaslah keluarga menjadi tempat pendidikan
pertama yang dibutuhkan seorang anak. Dan cara bagaimana pendidikan itu
diberikan akan menentukan. Sebab pendidikan itu pula pada prinsipnya
adalah untuk meletakkan dasar dan arah bagi seorang anak. Pendidikan yang
baik akan mengembangkan kedewasaan pribadi anak tersebut. Anak itu
menjadi seorang yang mandiri, penuh tangung jawab terhadap tugas dan
kewajibannya, menghormati sesama manusia dan hidup sesuai martabat dan
citranya. Sebaliknya pendidikan yang salah dapat membawa akibat yang
tidak baik bagi perkembangan pribadi anak. Salah satu pendidikan yang salah
adalah memanjakan anak.
Beberapa faktor yang menyebabkan orang tua memanjakan anaknya yaitu :
a) Orang tua anak tersebut dimanjakan oleh orang tuanya pula sehingga
pengalaman itu diwariskan kepada anaknya.
b) Orang tua mempunyai konsep kebahagiaan yang kurang tepat. Misalnya
kebahagiaan diidentik dengan menyenangkan hati anak-anaknya dengan
menuruti semua permintaan mereka dengan memberi barang-barang lux,
uang.
c) Sikap memanjakan dapat disebabkan juga karena orang tua dahulu
mempunyai pengalaman hidup yang pahit dan miskin sehingga mereka ingin
menghindari anak-anak mereka dari situasi yang serba sulit.
d) Orang tua yang banyak kegiatan dan bisnis sehingga tidak mempunyai waktu
senggang yang cukup bagi anak-anaknya. Kegiatan overaktif ini dapat
menimbulkan rasa bersalah bagi orang tua tersebut sehingga mereka
menuruti semua permintaan atau memberikan barang-barang berharga
sebagai substitusi kasih sayang mereka.
e) Kecendrungan orang tua yang kadang-kadang membedakan anak-anak
mereka. Sikap membedakan biasanya dilatarbelakangi oleh faktor
pandangan/ kebudayaan tertentu misalnya rasa bangga terhadap anak lakilaki.
Keadilan orang tua yang tidak merata terhadap anak dapat berupa
perbedaan dalam pemberian fasilitas terhadap anak maupun perbedaan kasih
sayang. Bagi anak yang merasa diperlakukan tidak adil dapat menyebabkan
kekecewaan anak pada orang taunya dan akan merasa iri hati dengan
saudara kandungnya. Dalam hubungan ini biasanya anak melakukan protes
terhadap orang tuanya yang diwujudkan dalam berbagai bentuk kenakalan.
Berbagai cara orang tua dalam mendidik anak yang menggunakan otoriter
dan adapula yang menggunakan demokrasi. Dalam satu keluarga bisa terjadi
© 2003 Digitized by USU digital library 6
perbedaan dalam cara mendidik anak misalnya anak yang satu dididik secara
otoriter dan yang lainnya secara demokratis.
Sikap otoriter yaitu yang menetukan segala-galanya mengenai apa
yang harus dilakukan oleh seorang anak setiap kali anak hanya boleh
melakukan satu jenis perbuatan saja, bersifat personal dalam memberikan
pujian dan celaan dan dalam memberikan bimbingan itu orang tua bersifat
pasif, tidak turut secara aktif. Anak–anak yang orang tuanya otoriter banyak
menunjukkan ciri-ciri pasif (sikap menunggu) dan menyerahkan segala
kepada orang lain. Disamping rasa kecemasan dan mudah putus asa dalam
jiwa anak.
Sikap yang demokratis adalah memberikan kebebasan terlalu besar
kepada anak dalam batas-batas tertentu; secara aktif orang tua ikut serta
dalam memberikan pekerjaan, lebih bersifat objektif dalam memberikan
pujian dan celaan.
b. Anak tidak diberikan pendidikan agama
Hal ini dapat terjadi bila orang tua tidak meberikan pendidikan agama atau
mencarikan guru agama di rumah atau orang tua mau memberikan
pendidikan agama dan mencarikan guru agama tetapi anak tidak mau
mengikuti. Bagi anak yang tidak dapat/mengikuti pendidikan agama akan
cenderung untuk tidak mematuhi ajaran-ajaran agama. Seseorang yang tidak
patuh pada ajaran agama mudah terjerumus pada perbuatan keji dan
mungkar jika ada faktor yang mempengaruhi seperti perbuatan kenakalan
remaja.
3. Anak yang ditolak
Penolakan anak biasanya dilakukan oleh suami istri yang kurang dewasa secara
psikis. Misalkan mereka mengharapkan lahirnya anak laki-laki tetapi memperoleh
anak perempuan. Sering pula disebabkan oleh rasa tidak senang dengan anak
pungut atau anak dari saudara yang menumpang di rumah mereka. Faktor lain
karena anaknya lahir dengan keadaan cacat sehingga dihinggapi rasa malu.
Anak-anak yang ditolak akan merasa diabaikan, terhina dan malu sehingga
mereka mudah sekali mengembangkan pola penyesalan, kebencian, dan agresif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar